Postingan pertama di tahun 2012. Kupersembahkan cerpen "Untukmu, Ibu" untuk kalian semua. Selamat membaca. ^_^
Sengaja aku posting disini agar kenangan itu tak pernah pudar, terus melekat, dan terus menjadi kenangan yang indah. Teruslah berusaha, berusaha, berusaha, dan jangan lupa berdo'a agar apa yang kau inginkan tercapai. Semangat menulis! Aja aja! Hwaiting! Cerpen ini bisa juga diliat di sini
Teriakan petir bergemuruh.
Kilat saling berkejar-kejaran. Air mata langit mulai mengalir deras. Matahari
terselimuti awan mendung. Sepanjang hari hujan mengguyur jalan ARH dan
sekitarnya. Tak banyak aktivitas yang dilakukan di saat seperti ini. Hanya
menatap jalan yang tampak sepi dari jendela kamar. Jalanan yang biasanya
dipenuhi kendaraan bermotor kini tampak lengang. Hampir tak ada satu pun
kendaraan yang melintas. Sepi dan sunyi. Keadaan yang tak semestinya terjadi.
Hanya terdengar rintihan air hujan dan suara petir yang menakutkan.
Masih terdengar rintihan
hujan. Hampir setiap hari selalu terdengar rintihan itu. Kadang rintihan itu
begitu memilukan dan menyanyat hati, membuat mereka yang mendengar merasa
ketakutan. Rintihan yang diiringgi dengan petir dan kilat membuat hati menjadi
kerdil. Kadang juga rintihan itu dapat membuat diri hanyut terbawa kesejukan
alam, rasa kantuk akan kembali beraktivitas.
Tatapan kosong masih mengarah
ke jalanan. Terlihat beberapa anak kecil berlarian, menyusuri gang-gang kecil
di sana. Mereka saling berteriak satu sama lain. Bercanda dengan sahabat karib.
Raut wajah mereka memancarkan kegembiaraan yang begitu dalam. Tak ada beban
yang ditanggung. Bebas dan lepas. Mudah sekali melakukan apa yang mereka suka.
Tak ada yang bisa melarang mereka. Kesenangan dan kegembiraan selalu tersenyum
pada mereka, anak-anak kecil tanpa dosa.
Sekelebat bayangan itu muncul
kembali. Bayangan sosok wanita paruh baya yang selalu mengganggu pikiran. Sosok
itu selalu tersenyum padaku. Senyum hangat yang mengingatkanku pada kampung
halaman. Asri dan nyaman sekali berada di sana. Tanpa polusi dan macet. Udara
yang bersih masih dapat ditemukan, dihirup dalam-dalam, dihembuskan sambil
melepas penat karena kesibukan diri. Gemericik air masih terdengar bebas.
Alunan melodinya sangat merdu. Hati gundah gulana dapat terobati karenanya. Kampung
halaman yang kurindukan.
Sudah 3 tahun, aku
meninggalkan rumah dan ibuku. Hanya untuk mencari gelar sarjana pendidikan. Tak
bisa kupungkiri bahwa aku pergi ke sini hanya untuk menuruti keinginan ibuku. Itu
awal dari tujuanku ke sini. Ibu ingin sekali mewujudkan cita-citanya, menjadi
seorang guru. Namun, hal itu tak pernah tercapai. Lagi-lagi faktor biaya yang
menjadi alasan utama. Alasan seseorang tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke
jenjang yang lebih tinggi. Sungguh sangat ironi. Gara-gara uang, impian yang
telah lama dibangun hancur begitu saja. Ini tak terjadi pada ibuku. Mimpi ibu
untuk menjadi seorang guru semakin kuat. Walaupun ibu tak dapat menjadi guru
dalam artian yang sesungguhnya. Ibu tetap menjadi guru bagi anak-anaknya. Guru
terbaik yang pernah aku dapatkan.
Ibu selalu ada untukku. Setiap
menit, setiap detik, setiap saat ibu selalu di sampingku saat gundah dan
bahagia menyelimuti hatiku. Perhatian dan kasih sayangnya tak pernah padam
semenjak aku masih berada dalam kandungan sampai saat ini. Walaupun jarak
memisahkan kita, belaian kasih sayangnya masih kurasakan, detak jantungnya
masih kudengarkan. Ibu adalah nafas
bagiku. Tak ada ibu. Aku pun tak akan pernah ada.
Tik tik tik. Bunyi hujan masih
terdengar. Kutatap jalanan yang tergenang air hujan. Dalam anganku, terlukis
bayangan seorang wanita paruh baya tersenyum manis padaku. Raut wajahnya
bersinar, matanya yang teduh tampak bercahaya, memancarkan rasa kebahagiaan
yang tak ternilai harganya. Anak semata wayangnya telah diterima di sebuah PTN
terkemuka. Ia juga diterima di jurusan yang selalu didambakan ibunya. Kelak ia
akan berdiri di depan anak-anak yang telah dititipkan oleh orang tua mereka
untuk mendapatkan sentuhan ilmu dan budi pekerti.
Di malam kelulusanku dan terakhir
mengenakan seragam putih abu-abu, ibu datang padaku. Ibu menanyakan ke mana
arah hidupku akan tertuju. Lalu, aku menceritakan semua mimpi-mimpi yang telah
aku bangun sejak pertama kali aku tak akan pernah bertemu ayah lagi. Aku ingin
menjadi seorang dokter dan memiliki sebuah rumah sakit. Aku ingin mengabdikan
diriku pada masyarakat yang kurang beruntung seperti diriku. Aku ingin
anak-anak mereka tak seperti diriku. Kehilangan sosok ayah.
Ketika itu, ayah mengalami
kecelakaan. Keadaannya sangat parah. Dokter mengatakan bahwa ayah harus segera
dioperasi. Lagi-lagi uang. Kami tak punya uang sesen pun untuk membiayai
operasi ayah. Ibu berusaha meminta keringanan kepada pihak rumah sakit. Namun,
mereka hanya berkata, “Maaf, kami hanya menjalani prosedur. Kami bisa
manjalankan operasi jika setengah dari biaya operasi terbayar”. Apakah prosedur
lebih penting dari pada nyawa? Entah apa yang dipikirkan mereka.
Aku tak bisa berbuat apa-apa
untuk ayah. Yang kulakukan hanya duduk terpaku melihat ibu pontang panting
mencarikan pinjaman uang untuk biaya operasi ayah. Gadis berusia 13 tahun ini hanya
bisa mendoakan ayah, memohon kepada Allah untuk menyembuhkan ayah dan menolong
ibu. Setelah bersusah payah mencari uang ke sana ke mari, akhirnya ibu
mendapatkannya juga. Tapi, usaha ibu tak bisa menolong ayah. Saat ibu mengurus
segalanya. Ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mendengar hal itu, ibu
tak sadarkan diri. Tapi, ibu bisa menguasai keadaannya. Kami hanya bisa pasrah
dan menyerahkan semuanya ke Allah, Sang Pencipta. Inilah jalan yang harus kami
lewati.
Uang telah membuat aku
kehilangan ayah dan tak akan pernah bertemu dengan ayah lagi. Hanya foto yang bisa
kupandang jikalau rindu kembali datang. Sejak itu, aku bertekad untuk mengubah
semuanya. Prosedur-prosedur yang tak memihak kepada rakyat kecil.
Aku bukanlah orang yang mudah
menolak permintaan orang apalagi ini adalah permintaan ibu. Ibu kandungku
sendiri. Bukan orang lain. Sebenarnya bukanlah sebuah permintaan melainkan hanya
sebuah harapan seorang ibu kepada anaknya. Melihat air muka ibu berubah. Hatiku
luluh. Hatiku pun hancur beserta hancurnya bangunan mimpi-mimpi itu. Aku harus
bisa melakukan itu, memenuhi harapan ibu untuk menjadi seorang guru. Walaupun
kutahu ibu tak pernah memaksaku untuk melakukannya.
02.50. Aku terjaga dari
tidurku. Seperti biasanya, aku pergi ke kamar mandi, mengambil air wudhu.
Kemudian bersujud, memohon ampun atas semua dosa-dosa yang pernah kulakukan,
bersyukur atas semua nikmatNya yang kuterima selama nyawa masih bersama jasad. Ini
yang selalu diajarkan ibu kepadaku. Bangun tengah malam. Mengerjakan sholat dua
rakaat.
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu,
mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (Al Israa’:79)
Tatkala aku akan menuju ke
kamarku, aku mendengar tangisan. Tangisan siapa itu? Itu terdengar dari kamar
ibu. Kubuka pelan-pelan kamar itu. Dengan balutan kain putih yang selalu
dipakainya untuk sholat, kulihat ibu bermunajat kapada Allah. Ibu mendoakan
diriku, mendoakan ayah juga, memohon pengampunan keluarga kami. Dengan linangan
air mata, ibu memohon kepada Allah agar apa yang kuinginkan tercapai, ridho
dengan keputusan yang kuambil selama masih di jalur yang benar dan lurus. Aku
tak kuasa melihat lelehan air mata ibu. Air mata yang tak pernah aku lihat
sebelumnya. Walaupun di saat maut menjemput ayah. Ibu terlihat tegar. Ibu tak
pernah berbagi kesedihan pada orang lain apalagi dengan diriku.
Ibu, aku akan menjadi seperti yang engkau inginkan. Surga ada di telapak kakimu. Ridhomu dekat sekali dengan ridho Allah.
Ibu, aku akan menjadi seperti yang engkau inginkan. Surga ada di telapak kakimu. Ridhomu dekat sekali dengan ridho Allah.
Hari keberangkatanku semakin
dekat. Semua persiapan sudah selesai. Tinggal menunggu waktu keberangkatan.
Daftar-daftar perlengkapan yang harus aku bawa sudah tidak ada lagi. Ibu
mendekat padaku, duduk di sisi ranjangku. Sementara aku menyiapkan pakaian
untuk kukenakan besok.
“Ibu, hanya bisa mendoakanmu.
Ibu tak bisa memberimu apa-apa. Ibu tak punya apapun untuk kau jadikan bekal”
“Ibu....”
“Ibu hanya berpesan. Jangan
melupakan sholat wajib dan sholat-sholat sunnah yang sering kau lakukan di
rumah. Tetaplah tersenyum bagaimanapun keadaannya. Wanita itu sosok yang kuat
jika ia tak menganggap dirinya lemah”
“Ibu... pesan ibu adalah bekal
hidupku. Doamu adalah kekuatanku. Kasih sayangmu adalah nafas bagiku.”
Kupeluk ibu erat-erat.
Linangan air mata kembali berurai. Ini adalah hari terakhirku bisa memeluk bunda.
Besok, besok, dan besok aku tak bisa sesering ini memeluk ibu. Pelukan yang
hangat. Dan pelukan penyemangat hidupku.
Kenangan yang telah lama
kusimpan membuat diriku kembali ke masa itu. Tak kusadari pipiku telah basah karena
air mata. Air mata sedih, air mata bahagia, dan air mata kerinduan. Rindu
pelukannya, belaiannya yang hangat. Raut wajah ibu masih tersimpan dalam
ingatanku. Aku tak akan pernah bisa melupakan ibu.
Allahu Akbar. Allahu Akbar. Berkumandang adzan. Waktu maghrib telah tiba. Aku bergegas ke kamar mandi
untuk mengambil air wudhu. Menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim.
Robbighfir lii wa li
waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo. Ya
Allah. Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil. Amin.
-Selesai-
Alhamdulillah, cerpen "Untukmu, Ibu" mendapatkan apresiasi dari keputrian JMMI sebagai juara 3 lomba cerpen muslimah dengan tema "Be A Great Woman for A Bright Future" dalam rangkaian kegiatan Muslimah's Parade tahun 2010. Gomaweo. Terima kasih. Matur Nuwun. Kupikir aku tak akan mendapatkannya. Hah, dan aku telah mendapatkannya. Inilah hasil dari apa yang aku lakukan. Ternyata aku bisa.
Sengaja aku posting disini agar kenangan itu tak pernah pudar, terus melekat, dan terus menjadi kenangan yang indah. Teruslah berusaha, berusaha, berusaha, dan jangan lupa berdo'a agar apa yang kau inginkan tercapai. Semangat menulis! Aja aja! Hwaiting! Cerpen ini bisa juga diliat di sini
Thanks to my mom. Terima kasih telah mengandungku, melahirkanku, dan merawatku hingga aku menjadi seperti ini, menjadi seorang sarjana. Maaf, belum bisa mewujudkan mimpimu. I'm so sorry.
Komentar
Posting Komentar